Efek ‘Bola Salju’ Global Perang Asimetris di Ukrania

War In Ukraine

Oleh : Maksi Ali Perajaka

LAPORAN terbaru dari Ukraina dipenuhi dengan cerita tentang rudal antitank Javelins, drone kamikaze Switchblade dan kendaraan udara tak berawak Bayraktar TB2 Turki yang menghancurkan tank dan kendaraan lapis baja Rusia.

Cerita itu berkembang menyusul aksi pemerintahan Joe Biden mengucurkan USD 800 juta dalam bentuk senjata pertahanan untuk Ukraina, termasuk, senjata antipesawat tercanggih era millennium kedua Stinger, diperkuat Javelins  dan drone Switchblade.

Bantuan persenjataan tersebut memompa keberanian pasukan dan milisi Ukraina untuk melawan kekuatan ‘raksasa’milter Rusia.

Sejatinya, Ukraian sejak awal menyadari bahwa kekuatan militernya jauh tidak seimbang dibandingkan dengan kekuatan militer  Rusia.

Oleh karena itu, ketika Rusia masih ancang-ancang hendak menginvasi, Angkatan Bersenjata Ukraina sudah membentuk milisi sukarelawan yang terstruktur rapih dan berjiwa patriotisme. Menjelang hari pertama perang, sekitar 100.000 sukarelawan dan 37.000 cadangan telah mendaftar.

Tugas milisi adalah mempertahankan infrastruktur penting, mendukung angkatan bersenjata reguler, dan memerangi penyabot dan mata-mata Rusia.

Milisi Ukraina menjadi ‘pembalas tak terlihat’ yang ditakuti pasukan Rusia. Sebab mereka memiliki taktik yang susah ditebak, menguasai pasokan obat-obatan, mengendalikan jaringan internet, memiliki senjata buatan sendiri, seperti bom Molotov, dan  diperlengkapi dengan Javelins, senjata antipesawat Stinger dan drone Switchblade.

Konsep perang asimetris

Laporan di atas menegaskan bahwa Ukraina dan Rusia sedang terjerumus dalam apa yang disebut sebagai perang asimetris.

Secara sederhana, perang asimetris merupakan perusakan kondisi sosial, ekonomi dan budaya serta politik tidak menggunakan senjata fisik, melainkan dengan strategi yang di luar kewajaran

Konsep perang asimetris bukanlah cerita baru. Sejarah mencatat bahwa yang pertama menyebut konsep tersebut adalah Sun Tzu, seorang filsuf dan ahli teori perang, berkembangsaan Tiongkok.

Dalam karya monumentalnya, The Art of War,  Sun Tzu menyatakan:  “Semua perang didasarkan pada tipu daya. Ketika dihadapkan dengan musuh, maka kita harus menawarkan musuh umpan untuk memancing dia; berpura-pura, membuat kekacauan dan kemudian memukulnya. Ketika ia kurang waspada, lakukan serangan mendadak; tetapi saat dia datang dengan kekuatan penuh, hindari” (Kathleen Kuiper: Britanica.com).

Kutipan ini menggambarkan bahwa pihak dengan kekuatan bersenjata yang “lemah” harus menerapkan sejumlah siasat khusus dalam berperang melawan musuh dengan kekuatan militer yang besar.

Konsep perang asimetris memiliki beberapa dimensi. Pada dimensi operasional, perang asimetris mendayagakan kelicikan dan tipu muslihat, operasi rahasia, pengkhianatan, dan aksi terorisme.

Pada dimensi strategi militer, konsep tersebut diwujud dalam bentuk perang gerilya.

Pada dimensi strategi sosial-politik, konsep perang asimetris tampak dalam wujud kampanye perang moral atau perang dengan pembenaran agama atau Kitab Suci, benturan budaya, kampanye dukungan melalui media digital dan media sosial, kampanye sanksi ekonomi, dan tawaran negosiasi untuk gencatan senjata.

Strategi perang asimetris ala Zelensky

Saat kepala intelijen militer Ukraina, Jenderal Kyrylo Budanov berkonsentrasi mengembangkan perang asimetris pada tingkat operasional dan strategi militer,  Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky secara konsisten menerapkannya pada tataran sosial-politik.

Zelensky misalnya berhasil meyakinkan negara Uni Eropa dan anggota NATO, bahwa invansi Rusia adalah ancaman bagi bangsa Eropa dan NATO.

Pada Jumat, 22 April 2022 malam Zelenzky  bahkan  memperingatkan bahwa Rusia dapat menimbulkan ancaman bagi lebih banyak negara di kawasan Eropa.

Ia mengklaim bahwa invasi Rusia ke Ukraina “dimaksudkan hanya sebagai permulaan, karena Rusia ingin merebut negara-negara lain.” (Bdk. foreignpolicy.com, 15 April 2022).

Pernyataan Zelensky tersebut muncul setelah seorang komandan Rusia mengatakan Kremlin bermaksud untuk membangun jalan melalui Ukraina ke wilayah yang memisahkan diri di Moldova.

Pada dimensi sosial-politik, strategi perang asimetris Ukraina seakan didukung  oleh kemajuan teknologi satelit dan digital yang begitu pesat belakangan ini.

Berkat kecanggihan teknologi satelit, Walikota Mariupol mampu menarik simpati masyarakat internasional dengan memperlihatkan  gambar satelit tentang  bukti pembataian warga sipil oleh pasukan Rusia.

Gambar satelit terbaru menunjukkan kuburan massal lain – di mana diperkirakan 1.000 penduduk mungkin dimakamkan – di desa terdekat.

Berdasarkan bukti gambar satelit tersebut Ukraina mendesak pembukaan koridor kemanusiaan untuk mengevakuasi penduduk Mariupol pada hari Sabtu (23/4), setelah upaya untuk membantu beberapa dari sekitar 100.000 warga sipil yang terperangkap gagal melarikan diri pada hari sebelumnya.

Selain itu, Ukraina juga terus melakukan  upaya diplomatik untuk menyelesaikan perang secara damai, bahkan ketika Rusia mengklaim bahwa pembicaraan dengan Ukraina telah terhenti.

Alhasil, Sekretaris Jenderal PBB António Gutierrez akan menuju ke Moskow Selasa (26/4)  untuk bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, sebelum mengunjungi Ukraina pada Kamis (28/4) untuk berdiskusi dengan Zelensky.

Sementara itu,  Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, yang telah menjadi tuan rumah putaran pembicaraan damai sebelumnya, berencana untuk menelepon Putin dan Zelensky dalam beberapa hari mendatang untuk mendorong pertemuan puncak para pemimpin di Istanbul.

Siapa pemenangnya?

Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat dan pemenang Nobel Perdamaian,  Henry Kissinger misalnya  pernah mengatakan bahwa tujuan dari pejuang gerilya adalah mengikis keinginan musuh untuk mempertahankan biaya melanjutkan perang.

Menurut dia “gerilyawan menang jika mereka  tidak kalah. Tentara konvensional kalah jika tidak menang.”

Sejarah juga membuktikan bahwa kemenangan dalam perang asimtris memang tidak selalu menjadi milik pasukan militer yang lebih unggul.

Pada abad ke-6 SM Darius I dari Persia, kepala pasukan terbesar dan paling kuat yang ada pada saat itu, ditaklukkan oleh orang Skit, yang memiliki kekuatan yang lebih kecil tetapi jauh lebih luwes dalam bergerak.

Di era modern, kekuatan militer negara Barat justru takluk oleh pasukan negara berkembang dengan kekuatan militer yang kecil.

Bangsa Indonesia misalnya berhasil mengatasi konial Belanda melalui taktik perang asimetris (gerilya).

Kekuatan kolonial juga terpaksa mundur dari Aljazair dan daerah lain bukan karena kalah dalam persenjataan tetapi karena kurangnya ketahanan  mereka untuk melanjutkan perang asimetris yang panjang.

Di Vietnam, setelah kalah telak dalam pertempuran Dien Bien Phu pada tahun 1954 , pasukan Prancis tak termotivasi untuk melanjutkan perang.

Sekitar dua dekade berhadapan pasukan gerilya Vietnam, ribuan tentata Amerika Serikat (AS) tewas sia-sia. Akibatnya, muncul tekanan  sosial dan politik di dalam negeri yang memaksa AS mengakui kekalahan dan menarik pasukannya.

Efek ‘bola salju’

Tentu saja perang asismetris di Ukraina akan menimbulkan efek ‘bola salju’ baik lokal maupun global, baik negatif maupun positif. Salah satu efek lokal dan bersifat negatif adalah bahwa perang Ukraina akan berlangsung lama.

Jika perang itu berlangsung lama, maka dampak sosial-budaya, ekonomi-politik, keamanan dan kemanusiaanya yang menyertainya akan terus menggelembung.

Secara sosial-budaya, akan makin banyak orang terlantar di pengasingan, makin banyak anak terganggu pendidikan dan kesehatannya, dan makin banyak warisan dan karya kebudayaan yang rusak atau terbengkalai.

Secara kemanusiaan, perang asimetris yang panjang akan menimbulkan makin banyak korban nyawa, makin banyak orang yan cacat fisik,  dan makin banyak orang  jadi yatim piatu atau pun single parent.

Secara politik keamanan, perang asimetris di Ukraina dalam skala lokal dapat melahirkan kelompok gerilyawan yang bermutasi menjadi suatu kelompok  terror yang sulit dinetralisir. Pada tahap tertentu kelompok tersebut bisa nekad untuk melakukan serangan teroris di jantung negara musuh (Rusia).

Perang asimteris Ukraina juga dapat menimbulkan ketegangan regional (Eropa) dan global, yang dalam kondisi tertentu dapat memicu konflik bersenjata, bahkan perang nuklir antara Rusia dan sekutunya melawan negara-negara anggota NATO.

Secara ekonomi, perang asimetris Ukraina melahirkan makin banyak pengangguran dan warga miskin, baik di Ukraina mapun di Rusia sendiri. Apalagi sejak peran dimulai, Rusia dikenai sanksi ekonomi yang berat dari berbagai negara.

Sementara itu, negara-negara yang dibanjiri jutaan pengungsi pun akan mengalami tekanan ekonomi yang berat, apabila para pengungsi tinggal dalam jangaka waktu panjang di negara mereka.

Dampaknya  bagi Indonesa

Kemunduran ekonomi di Ukraina, Rusia dan negara penampung pengungsi  sudah pasti melemahkan kerjasama ekonomi, investasi dan perdagangan baik bilateral maupun multilateral, tak terkecuali dengan Indonesia.

Data Kementerian Investasi atau Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), mencatat Indonesia memiliki investasi di Ukraina, di antaranya di bidang farmasi dan bidang teknologi informasi dan marketing. Sedangkan, investasi langsung Ukraina ke Indonesia pada 2021 ada sekitar 55 proyek dengan nilai USD 1,13 juta atau Rp16,1 miliar.

Data dari Kementerian Perdagangan, menunjukkan bahwa nilai perdagangan Indonesia-Ukraina pada 2021 menyentuh angka USD 1,46 milyar atau Rp20,8 triliun.

Menurut BKPM Rusia menempati posisi ke-37 dalam hal investasi di Indonesia. Pada 2021, negara tersebut meneken investasi di 280 proyek dengan nilai mencapai US$9,2 juta (per Januari—September 2021).

BPKM juga mencatat bahwa akumulasi aliran investasi lasngsung  Rusia ke Indonesia dalam kurun 2016—2021 mencapai US$46,82 juta.

Pada 2016—2021, penempatan investasi Rusia di Indonesia tersebar di berbagai wilayah, yakni sekitar US$26,8 juta (57,3 persen) di Bali dan Nusa Tenggara, sekitar US$15,5 juta di Sumatera (33 persen), sekitar US$3,4 juta (7,3 persen) di Jawa, dan sekitar US$1,12 juta (2,4 persen) di Sulawesi.

Dampaknya bagi Idonesia juga berlaku di bidang sosial-budaya dan politik. Setidaknya, orang Indonesia tak bisa leluasa belajar atau pun bekerja di Ukraina.

Melihat efek negatifnya yang begitu buruk, tenju saja kita berharap segera ada solusi damai di antara kedua negara yang sedang berperang itu.

Berdasarkan amanat Konstiusi  tentang politik ‘bebas aktif’,  Indonesia semestinya ikut aktif mencarikan solusi damai itu.  ***